Pemerintah Siapkan BUMN Tekstil Baru Demi Selamatkan Industri dan Ribuan Tenaga Kerja Nasional

Selasa, 20 Januari 2026 | 09:40:27 WIB
Pemerintah Siapkan BUMN Tekstil Baru Demi Selamatkan Industri dan Ribuan Tenaga Kerja Nasional

JAKARTA - Kondisi industri tekstil nasional kembali menjadi perhatian serius pemerintah setelah munculnya kasus pailit perusahaan besar. Langkah strategis pun disiapkan agar sektor padat karya ini tetap bertahan dan berdaya saing.

Pemerintah melihat perlunya intervensi negara untuk menjaga keberlangsungan industri tekstil. Salah satu opsi yang dipilih adalah pembentukan badan usaha milik negara khusus di bidang tekstil.

Berkaca dari kasus pailit di PT Sritex, pemerintah Indonesia berencana membentuk BUMN tekstil. Rencana ini disiapkan sebagai respons atas dampak besar yang ditimbulkan dari berhentinya aktivitas perusahaan tekstil berskala besar.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pembentukan BUMN di bidang tekstil bukanlah hal baru. Menurutnya, gagasan tersebut sudah pernah ada dan kini kembali diperkuat.

“Sebetulnya bukan sesuatu yang baru, ya, karena di bawah Danantara, kita sekarang memiliki satu BUMN yang memang fokus diminta fokus untuk menangani masalah garmen, kemudian masalah tekstil, terutama yang berkaitan dengan kemarin kejadian yang menimpa PT Sritex,” kata Prasetyo. Pernyataan itu disampaikan di Istana, Jakarta.

Keterangan tersebut disampaikan Prasetyo pada Senin, 19 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa pembentukan BUMN tekstil saat ini masih berada dalam tahap proses.

Prasetyo mengungkapkan pemerintah terus mengupayakan agar pembentukan BUMN tersebut dapat segera dirampungkan. Ia berharap seluruh tahapan administrasi dan teknis dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap industri strategis. Pemerintah menilai sektor tekstil memiliki peran penting dalam menopang perekonomian nasional.

Upaya Menyelamatkan Aktivitas Ekonomi dan Tenaga Kerja

Prasetyo menyebut pembentukan BUMN tekstil ini sekaligus bertujuan menyelamatkan puluhan ribu karyawan PT Sritex. Keberlangsungan usaha dinilai penting agar roda ekonomi tetap berputar.

Menurutnya, keberadaan BUMN tekstil diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi. Dengan begitu, dampak sosial akibat pemutusan hubungan kerja dapat ditekan.

“Kita harapkan dalam waktu dekat semua proses sudah bisa diselesaikan,” ujar Prasetyo. Ia menekankan pentingnya percepatan agar kegiatan ekonomi tidak terhenti terlalu lama.

Prasetyo menegaskan PT Sritex harus diselamatkan dalam arti kegiatan ekonominya tetap berjalan. Hal ini dinilai krusial mengingat besarnya peran perusahaan tersebut.

Ia menyebut PT Sritex mempekerjakan kurang lebih 10.000 karyawan. Jumlah tersebut mencerminkan besarnya ketergantungan masyarakat terhadap industri tekstil.

Selain menyerap tenaga kerja, PT Sritex juga menghasilkan aktivitas ekonomi yang signifikan. Produk yang dihasilkan mencakup pakaian dan seragam.

Produk tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagian hasil produksi juga diekspor ke berbagai negara.

Prasetyo menjelaskan bahwa jika industri tekstil berhenti, dampaknya akan sangat luas. Oleh karena itu, negara perlu hadir untuk menjaga stabilitas sektor ini.

Keberadaan BUMN tekstil diharapkan menjadi penopang baru. Pemerintah ingin memastikan industri garmen tetap hidup dan berkembang.

Arahan Presiden dan Strategi Nasional Tekstil

Sebelumnya, rencana pembentukan BUMN tekstil telah disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menyebut langkah tersebut sebagai strategi memperkuat industri nasional.

Airlangga mengatakan rencana ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Arahan tersebut disampaikan dalam rapat yang digelar di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Rapat tersebut berlangsung pada 11 Januari 2026. Dalam pertemuan itu, industri tekstil dibahas sebagai sektor strategis nasional.

Menurut Airlangga, industri tekstil dan garmen memiliki peran krusial. Sektor ini dianggap sebagai lini depan menghadapi dampak kebijakan tarif Amerika Serikat.

Kebijakan tarif tersebut dinilai berpotensi menekan daya saing produk Indonesia. Oleh karena itu, penguatan industri tekstil menjadi prioritas pemerintah.

“Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil. Tidak menghidupkan perusahaan tekstil lama,” kata Airlangga. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Indonesian Business Council Business Outlook 2026.

Acara tersebut digelar di Jakarta pada Rabu, 14 Januari 2026. Airlangga menegaskan bahwa BUMN yang dibentuk adalah entitas baru.

Pemerintah memilih membangun struktur industri yang lebih modern. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan menghidupkan perusahaan lama.

Airlangga menjelaskan bahwa pembentukan BUMN baru akan disertai perencanaan jangka panjang. Salah satunya melalui penyusunan peta jalan industri tekstil.

Roadmap dan Modernisasi Industri Tekstil

Pembentukan BUMN tekstil akan diikuti dengan penyusunan roadmap penguatan industri tekstil dan produk tekstil. Roadmap ini disiapkan sebagai panduan strategis nasional.

Airlangga menyebut roadmap tersebut akan mencakup penguatan dari hulu hingga hilir. Pemerintah ingin membangun struktur industri yang lebih kokoh dan terintegrasi.

Studi awal terkait rencana pembentukan BUMN tekstil disebut telah rampung. Hasil studi tersebut siap untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah.

Pemerintah berharap roadmap ini menjadi acuan modernisasi industri tekstil nasional. Modernisasi dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Penguatan struktur industri juga diharapkan mampu menghadapi tantangan global. Persaingan pasar internasional menuntut industri tekstil lebih adaptif.

Dengan roadmap yang jelas, arah kebijakan industri tekstil menjadi lebih terukur. Hal ini memberi kepastian bagi pelaku usaha dan tenaga kerja.

Pemerintah ingin memastikan bahwa industri tekstil tidak hanya bertahan. Sektor ini juga diharapkan mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Pembentukan BUMN tekstil dipandang sebagai fondasi awal. Dari fondasi ini, pengembangan industri dapat dilakukan secara sistematis.

Langkah ini juga diharapkan menarik minat investasi. Kehadiran negara diyakini mampu meningkatkan kepercayaan pasar.

Pemerintah menilai industri tekstil masih memiliki potensi besar. Potensi tersebut harus dikelola dengan kebijakan yang tepat dan terarah.

Dengan berbagai langkah strategis ini, pemerintah optimistis industri tekstil nasional dapat bangkit. Keberadaan BUMN tekstil diharapkan menjadi motor penggerak baru.

Terkini