Pemerintah Percepat Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Minyak 90 Hari untuk Ketahanan Energi Nasional

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:33:57 WIB
Pemerintah Percepat Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Minyak 90 Hari untuk Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah dengan kapasitas hingga 90 hari di Sumatra berjalan lebih cepat. Proyek ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan global.

Langkah percepatan ini juga bertujuan untuk meminimalkan ketergantungan impor dan menjaga stabilitas pasokan BBM di dalam negeri. Pemerintah telah mengantongi calon investor yang siap merealisasikan proyek strategis tersebut dalam waktu dekat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan rencana pembangunan storage tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan untuk segera direalisasikan. Menurutnya, fasilitas penyimpanan minyak menjadi komponen vital untuk memastikan energi nasional lebih siap menghadapi krisis.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu, 4 Maret 2026 malam.

Bahlil menegaskan percepatan pembangunan storage menjadi satu-satunya langkah untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional. Ia menambahkan, investor untuk proyek tersebut sudah tersedia dan siap mendukung pembangunan fasilitas ini.

“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Sudah siap,” katanya. Kehadiran investor diyakini mempercepat realisasi proyek tanpa menunggu proses panjang yang biasanya menyertai proyek strategis nasional.

Ia menjelaskan pendanaan proyek ini akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri. Meski begitu, Bahlil memastikan investasi tersebut tidak melibatkan Amerika Serikat.

“Investasinya bisa blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” tambahnya. Pemerintah membuka peluang keterlibatan pihak swasta untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas ini.

Fokus Penyimpanan Minyak Mentah dan Kesiapan BBM

Adapun storage yang akan dibangun difokuskan untuk menyimpan minyak mentah. Menurut Bahlil, ketersediaan crude oil menjadi kunci agar produksi BBM dapat berjalan melalui fasilitas kilang yang sudah ada.

“Kalau crude-nya ada, BBM-nya kan tangkinya bisa jalan. Dan kita lihat ekspansinya, kalau memang itu dibutuhkan untuk kita bangun untuk BBM jadinya, itu kan di kilang sebenarnya. Tinggal kita meminta kepada kilang-kilang Pertamina menambah tangki-tangkinya,” jelasnya. Pembangunan ini juga memperkuat rantai pasok energi domestik agar lebih stabil.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak baru di Sumatra dapat dimulai pada tahun 2026. Saat ini studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut masih berlangsung untuk memastikan perencanaan matang sebelum konstruksi dimulai.

Bahlil mengatakan langkah ini diambil untuk memperpanjang daya tahan cadangan energi nasional yang saat ini masih terbatas. Dengan fasilitas baru, Indonesia diharapkan mampu mencapai kapasitas cadangan yang mendekati standar internasional.

Saat ini standar minimum nasional untuk cadangan BBM ditetapkan selama 21 hari. Bahlil memastikan rata-rata stok BBM, minyak mentah, dan LPG nasional sudah berada di atas batas minimum tersebut, termasuk untuk mengantisipasi kebutuhan selama Idulfitri.

Meski demikian, secara kapasitas infrastruktur, fasilitas penyimpanan energi Indonesia saat ini maksimal hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 25 hingga 26 hari. Kondisi ini menunjukkan urgensi pembangunan storage baru untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang.

Menurut Bahlil, kapasitas tersebut masih jauh di bawah standar internasional yang umumnya mensyaratkan cadangan energi strategis hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan. Karena itu, pembangunan storage baru menjadi langkah penting agar Indonesia lebih siap menghadapi gejolak global, baik akibat konflik geopolitik maupun gangguan rantai pasok energi.

Kesiapan Infrastruktur dan Strategi Ketahanan Energi

Pembangunan storage ini diharapkan tidak hanya meningkatkan cadangan minyak nasional, tetapi juga memperkuat infrastruktur energi. Kesiapan ini menjadi modal utama menghadapi potensi krisis energi mendadak di masa depan.

Dengan kapasitas 90 hari, Indonesia dapat lebih fleksibel mengatur distribusi minyak dan BBM ke seluruh wilayah. Fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional, sehingga fluktuasi harga dan pasokan global dapat diantisipasi lebih baik.

Selain itu, keterlibatan investor dalam negeri maupun luar negeri diyakini mempercepat implementasi proyek. Kolaborasi ini memungkinkan teknologi modern dan manajemen efisien diterapkan sehingga proyek bisa rampung sesuai target.

Bahlil menegaskan bahwa keberadaan storage akan memudahkan ekspansi produksi BBM di kilang-kilang nasional. Dengan stok minyak yang memadai, proses pengolahan BBM akan berjalan lebih lancar tanpa gangguan pasokan.

Langkah strategis ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga kemandirian energi. Pembangunan storage minyak mentah menjadi bukti nyata bahwa Indonesia serius menghadapi tantangan ketahanan energi nasional.

Dengan percepatan proyek, Indonesia tidak hanya meningkatkan cadangan energi, tetapi juga menyiapkan diri menghadapi dinamika pasar global. Fasilitas ini menjadi jawaban atas kebutuhan strategis dalam menjaga stabilitas pasokan BBM bagi masyarakat.

Terkini