JAKARTA - Pergerakan pasar keuangan global kembali menyorot arah kebijakan Amerika Serikat. Bukan melalui pidato resmi, melainkan lewat langkah strategis di sektor energi dunia.
Arah kebijakan ini dinilai membawa konsekuensi luas bagi perdagangan komoditas internasional. Investor global mulai mencermati peluang yang muncul dari dinamika tersebut.
Sucor Sekuritas menilai langkah geopolitik Amerika Serikat di sektor energi berpotensi memicu arus dana masuk. Aliran tersebut diperkirakan mengarah ke saham energi dan logistik.
Dalam riset yang terbit pada 15 Januari 2026, Sucor Sekuritas memaparkan pandangannya. Manuver Washington dinilai bukan sekadar isu politik jangka pendek.
Langkah Amerika Serikat di Venezuela dan meningkatnya ketegangan dengan Iran disebut sebagai strategi besar. Strategi ini memiliki dampak langsung terhadap pasar komoditas global.
Pendekatan tersebut dinilai menyentuh kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan sekaligus. Pasar pun merespons dengan peningkatan volatilitas harga energi.
Strategi Energi AS dan Dampaknya ke Minyak Global
Amerika Serikat dilaporkan telah mengamankan kendali atas cadangan minyak Venezuela. Di saat yang sama, tekanan terhadap Iran terus diperkuat.
Menurut Sucor Sekuritas, langkah ini mengarah pada pembatasan akses China terhadap minyak murah. China diketahui menjadi pembeli terbesar minyak dari Venezuela dan Iran.
Pembatasan tersebut dinilai strategis dalam konteks persaingan global. Energi murah selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan industri China.
Dengan mengendalikan pasokan, Amerika Serikat dinilai berupaya mengubah keseimbangan pasar. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara produsen.
Selain itu, strategi ini juga ditujukan untuk menahan laju de-dolarisasi. De-dolarisasi berpotensi melemahkan posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan global.
Amerika Serikat dinilai ingin menjaga dominasi dolar dalam transaksi energi. Stabilitas dolar tetap menjadi kepentingan utama Washington.
Langkah tersebut juga memperkuat daya tawar Amerika Serikat terhadap China. Isu mineral kritis seperti logam tanah jarang menjadi bagian dari strategi ini.
Rare earth dinilai vital bagi industri teknologi dan pertahanan. Penguasaan rantai pasok menjadi kunci dalam persaingan geopolitik.
Tekanan AS di Venezuela dan Pengaruh China
Dari perspektif kawasan, langkah Amerika Serikat di Venezuela memiliki makna strategis. Tekanan ini diarahkan untuk membatasi pengaruh China di Belahan Barat.
Sepanjang periode 2000 hingga 2023, Venezuela tercatat menerima sekitar USD106 miliar. Dana tersebut berasal dari pinjaman dan dukungan keuangan China.
Sebagian besar dukungan tersebut mengalir ke sektor minyak. Sektor strategis lainnya juga turut menjadi sasaran investasi.
Ketergantungan Venezuela terhadap China memicu kekhawatiran Amerika Serikat. Washington menilai hal ini dapat mengancam kepentingan regionalnya.
Isu keamanan kawasan menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan tersebut. Amerika Serikat berupaya mempertahankan pengaruh tradisionalnya.
Tekanan terhadap Venezuela dinilai sebagai sinyal kuat kepada mitra China. Pesan geopolitik tersebut disampaikan melalui jalur energi.
Langkah ini juga memengaruhi persepsi risiko investor global. Ketidakpastian politik kerap diterjemahkan menjadi volatilitas harga.
Pasar komoditas pun merespons dengan kehati-hatian yang meningkat. Harga energi menjadi lebih sensitif terhadap berita geopolitik.
Risiko Konflik Iran dan Efek Rantai Pasar
Sementara itu, potensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai lebih sensitif. Dampaknya berpotensi menjalar ke seluruh pasar global.
Iran berada di sekitar Selat Hormuz yang sangat strategis. Jalur ini dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.
Gangguan kecil di kawasan tersebut dapat berdampak besar. Pasokan minyak global bisa terganggu dalam waktu singkat.
Bahkan ancaman konflik saja telah memicu respons pasar. Perusahaan pelayaran mulai menghindari wilayah berisiko tinggi.
Penghindaran ini mendorong kenaikan biaya angkut. Premi asuransi perang juga mengalami peningkatan signifikan.
Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya menopang harga minyak. Tekanan inflasi global pun berpotensi meningkat.
Pasar energi menjadi sangat responsif terhadap setiap perkembangan. Investor terus memantau eskalasi ketegangan kawasan.
Situasi ini menciptakan peluang sekaligus risiko. Strategi investasi perlu disesuaikan dengan dinamika geopolitik.
Implikasi ke Pasar Saham Indonesia
Bagi pasar Indonesia, dampak tidak langsung mulai diperhitungkan. Sucor Sekuritas menilai sektor tertentu berpotensi diuntungkan.
Saham produsen minyak sawit mentah dan batu bara disebut relevan. Keduanya memiliki korelasi historis dengan harga minyak.
Minimnya emiten minyak dan gas di bursa domestik menjadi faktor. Investor mencari alternatif eksposur ke sektor energi.
Sektor CPO dan batu bara dinilai menjadi proksi yang efektif. Pergerakan harganya kerap sejalan dengan tren energi global.
Dukungan juga datang dari kebijakan domestik. Program mandatori biodiesel dinilai memperkuat prospek CPO.
Ke depan, implementasi biodiesel B50 diperkirakan menopang harga CPO. Kebijakan ini juga menekan impor solar.
Stabilitas neraca perdagangan energi turut berdampak positif. Rupiah dinilai lebih terjaga di tengah gejolak global.
Dalam riset tersebut, Sucor Sekuritas menetapkan pilihan saham unggulan. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk menjadi sorotan utama.
Saham AADI ditetapkan sebagai pilihan utama sektor batu bara. Target harga yang dipasang sebesar Rp30.100.
Di sektor CPO, beberapa emiten juga dinilai menarik. Saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk masuk dalam daftar.
Selain itu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk turut disebut. PT Triputra Agro Persada Tbk juga dinilai memiliki potensi.
Meski demikian, seluruh saham CPO tersebut masih berstatus non-rated. Investor diimbau mempertimbangkan profil risiko masing-masing.
Secara keseluruhan, dinamika geopolitik global kembali membuka peluang selektif. Pasar energi dan logistik menjadi area yang patut dicermati.